Untukmu Agamamu, Takjilmu Takjilku

https://www.instagram.com/pasarwadaibjm/?hl=ms

Penulis: Gusriawan Sholehudin Wahid

“Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”

Bulan Ramadan, selain sebagai penanda bahwa telah tibanya perintah untuk berpuasa bagi umat Islam di seluruh dunia, juga menjadi penanda akan menjamurnya wisata kulineran untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa bagi umat Islam. Sehingga tidak heran sajian kuliner yang di perjual belikan di bulan ramadan, tidak dapat kita temukan pada bulan-bulan selainnya. Menu-menu berbuka puasa tersebut secara umum lebih dikenal dengan istilah “takjil” di Indonesia.

Fenomena tersebut turut melahirkan istilah baru yaitu “berburu takjil” yang mengacu pada kegiatan untuk mencari aneka takjil sebagai menu untuk berbuka puasa. Kegiatan berburu takjil menjadi suatu aktivitas yang memberikan kemeriahan sendiri di bulan suci ramadan. Namun, aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang berpuasa, anak kecil yang belum akil baligh juga ikut serta meramaikan. Bahkan yang menjadi poin menarik bahwa sauda-saudara kita yang non muslim juga turut serta “berburu” aneka takjil.

Media sosial juga aktif menayangkan beragam aktivitas non muslim dalam berburu takjil yang memberikan nuansa kehangatan dari keragaman yang tercipta dari interaksi masyarakat lintas agama. Hal ini menjadi guyonan tersendiri bagi warganet yang terbagi pada dua ekspresi. Ekspresi pertama menunjukkan kebingungan serta sedikit kekesalan para umat Islam karena selain harus berebut makanan dengan sesama umat muslim yang berpuasa, kini mereka juga harus bersaing dengan saudara-saudara kita yang non muslim dalam memperebutkan menu takjil yang diinginkan. Ekspresi kedua menunjukkan bahwa ada sebuah asas kesamaan untuk menikmati menu takjil di bulan ramadan, sehingga memunculkan istilah unik “untukmu agamamu, takjilmu takjilku”

Fenomena ini, meski terkesan lucu dan menghibur, juga memberikan gambaran terhadap kita tentang pentingnya toleransi dalam interaksi kepada masyarakat lintas agama dengan menghormati tradisi dan kepercayaan masing-masing sambil dibalut dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”

Sehingga menjadi sesuai sebuah ugkapan dari Sayyidina Ali bin Abi thalib pada awal tulisan ini.