Moderasi Beragama: Menanam Nilai Damai di Kampus Islam

Kampus Islam tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tapi juga ruang untuk menumbuhkan sikap beragama yang menyejukkan. Salah satu nilai penting yang perlu dijaga adalah moderasi beragama cara memahami dan mengamalkan Islam dengan seimbang, tidak berlebihan dan tidak pula kaku.

Islam sendiri telah menegaskan pentingnya keseimbangan itu. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut umat Islam sebagai Ummatan Wasathan (QS. Al-Baqarah: 143), yaitu umat yang berada di tengah, adil, dan mampu menjadi teladan bagi sesama. Makna ini mengajarkan kita untuk beragama dengan bijak, tanpa mudah menyalahkan perbedaan.

Menurut Ustaz Adi Hidayat, moderasi bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, melainkan menjalankan dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun, penuh ilmu, dan menenangkan hati. Dalam konteks kampus Islam, hal ini sangat relevan agar kegiatan dakwah dan pembinaan keagamaan bisa berjalan damai, tanpa menimbulkan jarak antar mahasiswa.

Penerapan nilai moderasi bisa dimulai dari hal-hal sederhana: memperbanyak dialog terbuka antarorganisasi, menghadirkan kajian keislaman yang ilmiah dan kontekstual, serta membangun budaya diskusi yang beradab meskipun berbeda pendapat.

Sejalan dengan itu, Prof. Quraish Shihab juga menegaskan bahwa Islam moderat bukanlah Islam yang lemah, tetapi Islam yang memahami konteks zaman dan menghargai kemanusiaan tanpa meninggalkan prinsip-prinsipnya.

Dengan menanamkan nilai moderasi beragama, kampus Islam dapat menjadi tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan membawa kedamaian bagi masyarakat. Karena sejatinya, wajah Islam yang indah tercermin bukan hanya dari ibadah, tapi juga dari cara kita bersikap dan hidup berdampingan dengan damai.

Baca Juga  Langkah Moderasi: Memahami Paradigma Kearab-Araban dalam Praktik Beragama di Indonesia